SAMPIT – Indonesia kini mencatatkan diri sebagai negara dengan jumlah kedai kopi terbanyak di dunia. Tercatat sekitar 461 ribu kedai kopi beroperasi di berbagai daerah, jumlah yang hampir tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat. Ledakan bisnis kopi ini menjadi penanda kuatnya budaya ngopi sekaligus geliat ekonomi kreatif berbasis kuliner di Tanah Air.
Namun di balik euforia pertumbuhan kedai kopi, muncul kekhawatiran serius soal keberlanjutan pasokan bahan baku. Pertumbuhan hilir yang masif dinilai belum diimbangi dengan penguatan sektor hulu, khususnya regenerasi kebun kopi dan petani.
Sekretaris Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI), Muhammad Chalid, menilai industri kopi nasional berpotensi menghadapi krisis bahan baku jika pembaruan kebun kopi dan kaderisasi petani tidak segera dipacu.
“Jumlah kedai kopi kita melonjak luar biasa. Tapi kalau kebun kopi tidak diremajakan dan regenerasi petani tidak berjalan, suplai biji kopi akan tertinggal. Ini ancaman serius bagi keberlanjutan industri kopi nasional,” tegas Chalid, Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan, banyak kebun kopi rakyat saat ini telah berusia tua dengan produktivitas menurun. Di sisi lain, minat generasi muda untuk terjun ke sektor budidaya kopi relatif masih rendah karena dianggap kurang menjanjikan dibanding sektor jasa dan industri kreatif di perkotaan.
Menurut Chalid, kondisi ini menciptakan ketimpangan antara pertumbuhan bisnis di hilir kedai kopi, roastery, dan industri minuman dengan kapasitas produksi di hulu. Jika tidak segera dijembatani, harga bahan baku berisiko naik tajam dan kualitas pasokan bisa tidak stabil.
“Kalau pasokan terganggu, yang terdampak bukan cuma petani, tapi juga pelaku usaha kedai kopi, UMKM, hingga konsumen. Harga bisa melonjak, kualitas tidak konsisten, dan ujungnya daya saing kedai kopi kita bisa turun,” jelasnya.
APJI mendorong adanya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, pelaku usaha kopi, dan komunitas petani untuk mempercepat program peremajaan kebun kopi, peningkatan akses pembiayaan, serta transfer pengetahuan budidaya modern. Selain itu, keterlibatan kedai kopi dalam skema kemitraan langsung dengan petani dinilai dapat memperkuat ekosistem kopi dari hulu ke hilir.
Chalid juga menilai tren kedai kopi seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum membangun ekosistem kopi berkelanjutan, bukan sekadar ekspansi gerai.
“Ledakan kedai kopi ini peluang besar. Tapi jangan sampai kita rajin membuka kedai, sementara kebun kopi kita dibiarkan menua. Kalau hulunya rapuh, hilirnya juga akan goyah,” pungkasnya.
Dengan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama industri kopi global, keberlanjutan kebun kopi dan regenerasi petani menjadi kunci agar 461 ribu kedai kopi yang menjamur hari ini tetap punya masa depan yang kuat dan berkelanjutan.(mc/adakalteng)
.png)
.png)